Penjual-Penjual Roti Lauw

terkantuk-kantuk
penjual-penjual roti Lauw
memeluk gerobak
di depan pasar yang masih bau amis pagi
menghirup hitam asap metromini
terhentak nyaring besi-besi
pembangunan MRT
dan
klakson-klakson

enam ribu rupiah
kubeli roti gambangmu, Pak!
kukeluarkan satu setidaknya
dari gerobakmu yang masih penuh isi

Advertisements

Anak-Anak Kecil Dengan Payung-Payung Terkembang

Anak-anak kecil berlarian gembira di antara gedung-gedung pencakar langit dengan payung-payung besar yang terkembang. Kegembiraan yang kontras dengan kelesuan lelaki-lelaki dan perempuan-perempuan berkemeja yang tertahan hujan di depan gedung-gedung di hiruk pikuk jam pulang kerja. Anak-anak itu menawarkan payung-payung besar mereka sementara mereka sendiri basah kuyup. Tidak seperti sebagian besar yang mengutuki hujan sore itu, mereka justru tersenyum memamerkan geligi mereka yang kekuning-kuningan sebagaimana mereka menerima selembar dua lembar  uang dua ribu atau lima ribu dari kantong-kantong pengguna jasa mereka.

Anak-anak kecil itu mengakrabi tubuh dan kaki mereka dengan hujan yang membasahinya. Sandal-sandal mereka berkecipak di antara genangan-genangan air menyaingi bunyi klakson kendaraan di jalanan. Tubuh mereka tampak jelas di balik kaos lusuh basah yang menempel. Ketika mungkin sebagian besar anak-anak kecil seusia mereka berada dalam selimut dan meminum minuman hangat, mereka mengembangkan payung-payung yang bukan untuk memayungi tubuh mereka sendiri. Tapi payung-payung yang terkembang itu membuat mereka gembira.

Di balik jendela dengan secangkir kopi hangat seharga lebih dari sepuluh kali lipat dari yang anak-anak kecil dengan payung terkembang itu terima, sebagian orang mengutuki hidup mereka sendiri. Mengeluh entah itu tentang keluarga, cinta, harta, pangkat, surga, atau neraka. Berkutat dengan definisi kebahagiaan yang barangkali saja bukan definisi yang mereka buat sendiri. Barangkali perlu menengok jendela belajar dari anak-anak kecil itu. Bahwa mungkin sebenarnya kebahagiaan dalam hidup itu hadir ketika mengakrabi hidup itu sendiri. Seperti anak-anak kecil dengan payung-payung terkembang di bawah hujan.